POSKOTASUMATERA.COM-HUMBAHAS ,- Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, diwarnai kisah haru sekaligus inspiratif. "Di tengah gegap gempita upacara pengibaran bendera, seorang pemuda bernama Kevin Silaban (17) tetap menjalankan tugasnya sebagai Komandan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), meski sehari sebelumnya ia kehilangan sang ayah, Ramot Silaban (59).
Namun, di balik keteguhan langkah Kevin, ada sosok yang setia mendampingi: Ketua Panitia HUT RI Kecamatan Lintongnihuta , Marganda Silaban, yang sejak kabar duka itu datang tak pernah lepas dari sisi Kevin dan keluarganya.
Duka Menyapa di Tengah Tugas Negara :
Kabar duka berpulangnya Ramot Silaban datang pada 16 Agustus 2025 dini hari di, Kecamatan Lintongnihuta, Humbahas. Saat itu, Kevin sedang dalam persiapan akhir untuk tampil sebagai komandan Paskibraka.
Dihadapkan pada dilema besar—menunaikan tugas negara atau mendampingi keluarga di rumah duka—Kevin memilih tetap menjalankan tanggung jawabnya.
Keputusan itu tidak ia ambil sendiri. Dukungan moral datang dari berbagai pihak, terkhusus Ketua Panitia HUT RI ke 80 Kecamatan Lintongnihuta , Marganda Silaban. “Saya tahu Kevin sedang menghadapi ujian hidup terberat. Kami hadir agar dia tidak merasa sendiri. Desa harus berdiri di belakang anak ini,” ungkap Marganda.
Langkah Tegap di Tengah Air Mata :
Pagi 17 Agustus 2025, Kevin memberi penghormatan terakhir kepada ayahnya sebelum berangkat menuju Lapangan Merdeka Doloksanggul. Dengan mata berkaca-kaca, ia berpamitan kepada ibunya, lalu mengenakan seragam Paskibraka dengan penuh wibawa.
Marganda Silaban yang turut menyaksikan momen itu menuturkan, “Bayangkan, seorang anak baru saja kehilangan ayah, tapi harus memimpin upacara kenegaraan. Itu bukan hal biasa, itu keberanian yang luar biasa.”
Di hadapan ribuan peserta upacara, Kevin tampil gagah dan penuh disiplin. Saat Sang Saka Merah Putih perlahan berkibar, banyak warga yang tidak kuasa menahan air mata. Mereka tahu, di balik ketegasan wajah Kevin, ada luka mendalam yang sedang ia sembunyikan.
Solidaritas Desa, Dari Lapangan ke Rumah Duka :
Selesai prosesi penurunan bendera sore hari, Marganda Silaban bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, dan unsur kecamatan langsung menuju rumah duka keluarga Silaban. “Kami ingin keluarga ini tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ini bukan hanya duka keluarga Silaban, tapi duka seluruh desa, dan kecamatan” tegas Marganda.
Menurutnya, kehadiran pemerintah desa bukan hanya formalitas, melainkan wujud nyata solidaritas. “Kalau hanya memberi semangat di lapangan, itu belum cukup. Kami harus hadir di rumah duka, duduk bersama, berbagi air mata,” tambahnya.
Teladan bagi Generasi Muda :
Kisah Kevin kini menjadi teladan bagi banyak orang, terutama generasi muda. Ia menunjukkan bahwa tanggung jawab, disiplin, dan cinta tanah air bisa berdiri tegak bahkan di tengah duka terdalam.
“Kevin membuktikan bahwa Merah Putih bukan sekadar bendera, tapi kehormatan yang dijaga dengan pengorbanan,” ujar Marganda Silaban.
Marganda juga menegaskan bahwa pemerintah desa akan terus mendampingi keluarga Kevin, tidak hanya saat upacara kemerdekaan, melainkan juga setelah prosesi duka selesai.
Refleksi Kemerdekaan ke-80 RI :
Kisah Kevin Silaban dan peran serta Panitia HUT memberi pelajaran berharga: kemerdekaan bukan hanya selebrasi, tapi juga pengorbanan dan kebersamaan.
Di saat bangsa merayakan usia ke-80 tahun kemerdekaan, Indonesia belajar dari seorang pemuda yang menunda air matanya demi Sang Saka, dan dari seorang kepala desa sekaligus Ketua Panitia HUT yang hadir bukan sekadar sebagai pemimpin administratif, tetapi sebagai bapak bagi warganya.
Hari itu, kami dari Panitia HUT RI Kecamatan Lintongnihuta mengirimkan pesan kuat untuk Indonesia: bahwa bangsa ini akan tetap tegak bukan karena satu orang, melainkan karena solidaritas dan persatuan yang hidup sampai ke akar desa. (PS/BN)