POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL – Cahaya matahari pagi menembus sela-sela dedaunan, memantul di lapangan SMP Negeri 1 Marancar yang pagi itu berubah menjadi arena semarak penuh warna. Bendera merah putih berkibar gagah di setiap sudut, sementara suara riuh tawa anak-anak berpadu dengan derap langkah peserta lomba. Udara segar pegunungan Marancar membawa aroma tanah basah dan semangat kemerdekaan yang begitu kental.
Sejak pagi, ratusan siswa dari berbagai sekolah sudah memadati lapangan. Wajah-wajah ceria mereka tak hanya memancarkan antusiasme, tetapi juga kebanggaan menjadi bagian dari perayaan menuju HUT RI ke-80. Di satu sisi lapangan, anak-anak SD bersiap untuk lomba lari 80 meter, keringat mulai membasahi pelipis, namun mata mereka tetap berbinar penuh tekad. Sementara di sudut lain, suara bambu engrang yang beradu dengan tanah menjadi irama khas yang membangkitkan kenangan masa kecil.
Camat Marancar, Hj. Rosnanni Pasaribu, S.Pd., MM, melangkah di tengah kerumunan dengan senyum hangat, sesekali menyapa peserta dan penonton. Di hadapan semua yang hadir, ia menegaskan bahwa perlombaan ini adalah lebih dari sekadar hiburan. “Setiap langkah, setiap teriakan semangat, adalah cerminan nilai-nilai kebersamaan, ketangguhan, dan cinta tanah air,” ucapnya, suaranya menyatu dengan tepuk tangan penonton yang mengiringinya.
Di sisi panggung, Kepala SMP Negeri 1 Marancar, Hj. Irma Susiana Harahap, S.Pd., tampak bangga menyaksikan murid-muridnya berlomba. Bagi Irma, ini bukan sekadar ajang mencari pemenang, melainkan kesempatan membentuk karakter dan keterampilan non-akademis. “Mereka belajar sportif, menghargai lawan, dan bermain dengan aturan—itu pelajaran yang tak kalah penting dari teori di kelas,” tuturnya sambil tersenyum.
Momen paling memikat terjadi saat lomba terompa panjang dimulai. Empat pasang kaki terikat pada papan kayu, melangkah kompak sambil tertawa dan terkadang nyaris terjatuh. Sorak sorai penonton memuncak setiap kali tim berhasil mencapai garis finis tanpa terjatuh. Permainan tradisional ini menjadi pengingat akan kekayaan budaya lokal yang sarat makna, di tengah gempuran permainan digital yang kini mendominasi kehidupan anak-anak.
Suasana semakin meriah ketika para orang tua ikut memberi dukungan. Ada yang membawa kamera untuk mengabadikan momen, ada pula yang memekikkan semangat sambil mengibaskan kipas tangan. Lapangan tak lagi sekadar tempat perlombaan, tetapi berubah menjadi ruang pertemuan dan silaturahmi warga, tempat tawa dan kebersamaan mengalir tanpa sekat.
Ketika matahari mulai condong ke barat, lomba demi lomba usai, namun semangatnya tetap membara. Pemerintah Kecamatan Marancar berharap kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persatuan dan gotong royong adalah kunci kemajuan bangsa—semangat yang diwariskan para pahlawan dan harus terus hidup di hati generasi penerus.(PS/BERMAWI)
