POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL – Suasana penuh haru dan kebersamaan mewarnai acara perpisahan mahasiswa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan (IPTS) yang telah menyelesaikan program Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Desa Padanglancat Sisoma, Kecamatan Batangtoru, Senin (18/8/2025). Acara tersebut berlangsung di P2MKP Amphibi, pusat pelatihan masyarakat setempat, yang menjadi saksi kebersamaan antara akademisi dan warga desa selama 40 hari.
Program PKL ini tidak sekadar menjadi kewajiban akademik bagi mahasiswa, tetapi juga wahana nyata untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan, memperkuat keterampilan sosial, serta membangun jejaring dengan masyarakat desa. Selama lebih dari satu bulan, para mahasiswa IPTS terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan pendidikan, inovasi pertanian berkelanjutan, hingga pelatihan teknologi sederhana yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari warga.
Kepala Desa Padanglancat Sisoma, Marihot Anton Sihombing, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi mahasiswa selama menjalankan program PKL. Menurutnya, kehadiran mahasiswa IPTS membawa warna baru dalam dinamika sosial desa, terutama dalam menumbuhkan semangat belajar dan memperkenalkan pola pikir ilmiah yang sederhana namun aplikatif. “Kami merasa terbantu dengan ide-ide segar yang ditawarkan mahasiswa. Mereka menjadi bagian dari keluarga besar desa ini,” ujar Marihot.
Dari sisi akademisi, PKL ini menjadi bukti konkret bahwa perguruan tinggi tidak hanya berfungsi mencetak sarjana, tetapi juga berperan sebagai mitra masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal. Mahasiswa IPTS, dengan latar belakang multidisiplin, mampu menghadirkan gagasan berbasis riset yang dapat mendukung pembangunan desa, baik di sektor pendidikan, ekonomi, maupun lingkungan.
Salah satu mahasiswa peserta PKL menyampaikan bahwa pengalaman tersebut merupakan laboratorium sosial yang sesungguhnya. Mereka belajar langsung dari kearifan lokal masyarakat, memahami tantangan nyata pembangunan desa, sekaligus menguji sejauh mana ilmu yang dipelajari di bangku kuliah mampu menjawab kebutuhan di lapangan. Interaksi dengan warga pun memperkaya wawasan emosional dan keterampilan komunikasi mereka.
Acara perpisahan tidak hanya diisi dengan sambutan dan refleksi, tetapi juga pertunjukan seni budaya lokal sebagai simbol kebersamaan. Warga desa dan mahasiswa saling bertukar cendera mata sederhana yang melambangkan rasa terima kasih dan persahabatan. Momen ini mengukuhkan pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam membangun jembatan menuju kemajuan bersama.
Ke depan, Kepala Desa bersama pihak IPTS sepakat menjalin kerja sama berkelanjutan agar program serupa tidak berhenti hanya pada PKL. Melainkan, menjadi model pengabdian masyarakat berkesinambungan yang berorientasi pada riset, inovasi, dan pemberdayaan warga desa. Dengan begitu, keberadaan mahasiswa di desa tidak sekadar temporer, tetapi benar-benar memberikan dampak jangka panjang.
Acara perpisahan ini menegaskan bahwa PKL bukan hanya agenda formalitas akademik, melainkan media transformasi sosial yang menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya kolaborasi. Mahasiswa pulang dengan membawa pengalaman berharga, sementara masyarakat desa mendapat tambahan ilmu dan semangat baru untuk mengembangkan potensi lokal. Sebuah hubungan ilmiah sekaligus humanis yang diharapkan terus bersemi di tanah Batangtoru.(PS/BERMAWI)
