POSKOTASUMATERA-HUMBAHAS,- Sejak tahun ajaran baru 2025, seluruh sekolah di Kabupaten Humbang Hasundutan dan bahkan di seluruh Indonesia, resmi menerapkan sistem sekolah lima hari.
Kebijakan ini berlandaskan Surat Keputusan Bupati Humbang Hasundutan yang merujuk pada Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan karakter (PPK) serta Permendikbud Nomor 16 Tahun 2022 tentang Standar Proses Pendidikan.
Dengan aturan tersebut, siswa masuk sekolah mulai Senin hingga Jumat, sementara Sabtu dan Minggu menjadi hari libur. Meski begitu, jam belajar setiap harinya diperpanjang hingga pukul 15.00–15.40.
Pemerintah pusat menegaskan bahwa kebijakan sekolah lima hari diharapkan dapat memperkuat pendidikan karakter, memberi ruang bagi ekstrakurikuler, meningkatkan efisiensi pembelajaran, menyinergikan program gizi gratis.
Dengan dua hari libur penuh, siswa juga memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga, kesempatan mengikuti kegiatan seni dan olahraga, hingga membantu orang tua di rumah maupun di ladang.
"Namun, penerapan sistem ini tidak lepas dari persoalan, khususnya di daerah pedesaan Humbahas."Jam pulang lebih sore. Anak-anak petani biasanya membantu orang tua menggembala ternak atau bekerja di ladang.
Fisik cepat lelah jika belajar hingga sore membuat konsentrasi menurun, terutama bagi siswa SD dan SMP. Risiko kesehatan tanpa gizi cukup, anak bisa mudah lelah, stres, bahkan kehilangan waktu bermain, kondisi sosial-ekonomi dan di desa, anak bukan sekadar pelajar, tetapi juga tenaga tambahan keluarga.
“Kalau pulang sudah sore, anak-anak tak sempat lagi bantu kami di ladang, keluh seorang ayah di Kecamatan Pollung yang tidak bersedia namanya di terbitkan. "Namun, ada pula orang tua yang mendukung kebijakan ini. “Yang penting sekolah memperhatikan kebutuhan anak-anak. Pendidikan tetap prioritas,” ujar seorang ibu di Doloksanggul. Kamis (22/8)
Kebijakan sekolah lima hari erat kaitannya dengan program makan bergizi gratis dari pemerintah pusat. Jika distribusinya lancar, siswa tetap bugar meski belajar lebih lama. Namun, jika pelaksanaannya tersendat, anak justru rawan lelah dan kurang fokus menerima pelajaran.
Orang tua berharap agar pemerintah pusat dan daerah tidak sekadar menjalankan aturan, tetapi juga menyesuaikannya dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Beberapa masukan yang mengemuka antara lain: Jadwal belajar lebih efisien, jeda istirahat siang yang cukup, program gizi gratis benar-benar sampai ke siswa, orang tua dilibatkan dalam proses evaluasi.
Penerapan sekolah lima hari di Humbahas adalah langkah strategis mengikuti regulasi nasional. Namun, implementasinya tidak bisa dipisahkan dari realitas lokal.
Suara para petani di desa menjadi pengingat, bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, tetapi juga keseimbangan antara kebutuhan sekolah dan kehidupan keluarga. (PS/BN)
