Kearifan Lokal Masih Terpelihara di Kelurahan Pasar Sempurna

/ Selasa, 02 September 2025 / 11.24.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Kelurahan Pasar Sempurna, Kecamatan Marancar, tetap menjaga denyut tradisi leluhur. Sejumlah ritual adat seperti Pasahat Karejo, Manggiling sehari sebelum pesta, Tumpuk Tulang, Mangupa, hingga Mangolat boru masih hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian warga.


Lurah Pasar Sempurna, Leli Khairani Siregar, SKM, menuturkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan, tetapi juga sumber nilai yang membentuk karakter masyarakat. “Tradisi ini mengajarkan kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur. Nilai-nilai ini harus kita wariskan agar generasi muda tidak kehilangan jati dirinya,” ujarnya penuh harap.


Bagi warga setempat, setiap ritual bukan hanya simbol adat, tetapi juga ruang kebersamaan. Pasahat Karejo, misalnya, menjadi momen syukuran setelah panen atau membangun rumah. Di sana, warga duduk melingkar, berbagi makanan, tawa, dan cerita. Suasana hangat ini merekatkan silaturahmi, seolah mengingatkan bahwa hidup tidak pernah bisa dijalani sendirian.


Begitu pula dengan Manggiling, tradisi gotong royong sehari sebelum pesta. Warga, tanpa diminta, datang membantu menyiapkan masakan, peralatan, hingga dekorasi. Dari dapur yang dipenuhi aroma masakan hingga halaman yang ramai dengan canda, tradisi ini memperlihatkan betapa kuatnya rasa solidaritas yang hidup dalam masyarakat.


Nilai kekeluargaan juga tampak dalam Tumpuk Tulang dan Mangupa. Yang pertama, melambangkan rasa syukur atas rezeki berupa daging sembelihan, sementara Mangupa menjadi doa restu bagi keluarga yang memulai babak baru kehidupan. Di momen ini, air mata haru sering jatuh, terutama ketika orang tua mendoakan anaknya yang akan merantau atau menikah.


Sementara itu, Mangolat menjadi pengingat akan asal-usul dan keseimbangan hidup. Di setiap pelaksanaan, warga diajak untuk kembali pada akar budaya dan tidak melupakan tanah tempat mereka berpijak. Tradisi ini ibarat jembatan yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan.


Kehangatan yang lahir dari tradisi tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal bukanlah sekadar kenangan, melainkan napas yang terus menghidupi masyarakat. Di Kelurahan Pasar Sempurna, nilai kebersamaan, syukur, dan penghormatan kepada kehidupan masih teguh berdiri. Di tengah gempuran teknologi, mereka membuktikan bahwa menjaga tradisi adalah cara menjaga hati—agar tetap berpijak pada nilai kemanusiaan yang paling hakiki.(PS/BERMAWI)

Komentar Anda

Terkini: