POSKOTASUMATERA.COM-TAPSEL- Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Aula Pondok Pesantren Mardhatillah, Kecamatan Angkola Barat, Kamis (11/9/2025). Ratusan santri duduk berjejer dengan wajah penuh antusias, menyimak materi sosialisasi penguatan kerukunan umat beragama yang digelar oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama stakeholder terkait.
Kegiatan ini bukan sekadar penyampaian materi, melainkan ruang dialog yang menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya hidup rukun dalam keberagaman. Santri diajak untuk memahami nilai toleransi, menghargai perbedaan, dan bijak menggunakan media digital agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang bisa memecah persatuan.
Pimpinan Ponpes Mardhatillah, Pilhanuddin LC, yang turut hadir langsung, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia menilai kegiatan ini selaras dengan visi pesantren yang ingin melahirkan generasi berakhlak mulia sekaligus berwawasan kebangsaan. “Santri harus siap menjadi pemimpin masa depan. Mereka bukan hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga harus mampu merawat keberagaman dan menjaga persatuan,” ujarnya penuh semangat.
FKUB sebagai mitra pemerintah daerah memainkan peran strategis dalam menyemai benih kerukunan sejak dini. Dengan hadirnya stakeholder dari berbagai unsur, materi yang disampaikan pun terasa kaya perspektif—mulai dari sisi teologis, hukum, sosial, hingga teknologi. Pendekatan lintas bidang ini membuat para santri semakin paham bahwa kerukunan bukan sekadar jargon, melainkan sikap hidup yang harus diterapkan dalam keseharian.
Yang menarik, sesi diskusi berjalan hidup. Banyak santri mengajukan pertanyaan kritis seputar toleransi antarumat beragama, bahkan bagaimana menghadapi ujaran kebencian di media sosial. Antusiasme ini mencerminkan kesiapan generasi pesantren untuk menjadi agen perubahan, bukan hanya di lingkungan pondok, tetapi juga di masyarakat luas.
Kegiatan yang berlangsung dengan tertib dan penuh keakraban itu memberikan pengalaman berharga bagi para santri. Mereka merasakan bahwa ilmu yang diperoleh bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk diamalkan dalam menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk.
Sosialisasi ini pun diharapkan menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya. Dengan sinergi antara pesantren, FKUB, dan stakeholder, pendidikan tentang kerukunan umat beragama dapat menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman. Dari Ponpes Mardhatillah, semangat toleransi itu digelorakan—menjadi api kecil yang kelak mampu menerangi persatuan bangsa.(PS/BERMAWI)
