POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Pascabanjir yang melanda Desa Muara Huta Raja, Kecamatan Muara Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, menyisakan lumpur, puing, dan kelelahan bagi warga. Namun di balik dampak bencana tersebut, tumbuh semangat kebersamaan yang menguat, terutama dalam upaya memulihkan fasilitas pendidikan yang menjadi harapan masa depan anak-anak desa.
Sejak pagi hari, halaman sekolah dan madrasah tampak ramai oleh aktivitas kerja bakti. Karyawan PLTA Batangtoru, unsur Pemerintah Daerah, personel TNI, masyarakat setempat, hingga relawan turun langsung membersihkan sisa-sisa lumpur yang mengendap di ruang kelas, perpustakaan, dan halaman sekolah.
Tidak ada sekat jabatan, semua larut dalam satu tujuan, mengembalikan sekolah agar kembali hidup. Dengan peralatan sederhana seperti cangkul, sapu, dan ember, mereka bekerja berdampingan. Lumpur diangkut sedikit demi sedikit, bangku dan meja dibersihkan, dinding kelas dilap hingga kembali terlihat cerah.
Canda ringan dan sapaan hangat mengiringi kerja, menciptakan suasana akrab yang mengusir lelah dan duka pascabencana. Bagi para guru dan orang tua, kegiatan ini bukan sekadar membersihkan bangunan fisik. Gotong royong tersebut menghadirkan kembali rasa aman dan nyaman bagi anak-anak untuk kembali ke sekolah. Sekolah yang bersih menjadi simbol harapan agar proses belajar mengajar dapat segera berjalan normal, meski sempat terhenti akibat banjir.
Kehadiran berbagai pihak menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap dunia pendidikan tidak mengenal batas institusi. Setiap tenaga yang dikerahkan adalah wujud cinta terhadap generasi penerus di tengah situasi sulit.
Warga setempat pun mengaku terharu atas dukungan yang datang dari berbagai pihak. Di tengah keterbatasan, solidaritas sosial justru semakin menguat. Gotong royong menjadi bahasa universal yang menyatukan semua elemen masyarakat dalam satu gerak pemulihan.
Dari Muara Huta Raja, kisah kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa bencana tidak selalu menghadirkan keputusasaan. Di antara lumpur dan sisa banjir, harapan kembali dibangun, demi masa depan anak-anak yang tetap cerah dan penuh semangat untuk belajar. (PS/BERMAWI)
