KALIBER Gelar Aksi Solidaritas, Desak Pengusutan Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis HAM

/ Kamis, 19 Maret 2026 / 19.02.00 WIB

 


POSKOTASUMATERA.COM- ASAHAN

Koalisi Aktivis Bersuara (KALIBER) menggelar aksi solidaritas untuk Wakil Ketua Umum Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, pada Rabu (18/3/2026).

Aksi ini merupakan respons atas insiden penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal yang menimpa Andrie pada 12 Maret lalu.


Massa aksi mulai memadati Tugu Imam Bonjol sebagai titik kumpul sebelum memulai rangkaian orasi. 

Koordinator lapangan, Risky Nur Aldiansyah, dalam pernyataan pembukanya mengecam keras tindakan tersebut. 

Ia menyebut serangan itu sebagai bagian dari rangkaian panjang pelanggaran HAM di Indonesia yang hingga kini belum terselesaikan secara tuntas.


Perwakilan DPP Sentral Aktivis Mahasiswa Pemuda Sumatera Utara, Muhammad Akbarsyah Sinaga, menyoroti rendahnya kualitas demokrasi Indonesia. 

Ia merujuk pada indeks demokrasi yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit dengan skor 6,4, yang masih menempatkan Indonesia dalam kategori flawed democracy, khususnya dalam aspek kebebasan sipil. 

Menurutnya, kondisi ini mencerminkan stagnasi demokrasi meski Indonesia telah merdeka lebih dari tujuh dekade.


Sementara itu, aktivis Republic of Indonesia’s Society for Empowerment, Meirad Arianza Bima, menyampaikan kritik tajam terhadap aparat penegak hukum. 

Ia menegaskan bahwa jika kasus ini tidak segera diungkap.

“Instansi yang tidak mampu melindungi masyarakat tidak pantas untuk dipertahankan,” tegasnya.



Aktivis lainnya, Dimas Nurul Kalbuadi, menilai serangan terhadap Andrie bukanlah tindakan acak. 

Ia menyoroti rekam jejak korban sebagai aktivis vokal, termasuk keterlibatannya dalam aksi protes terhadap pembahasan RUU TNI serta partisipasinya dalam diskusi publik bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”. 

Dugaan ini semakin menguat dengan adanya laporan yang menyebutkan keterlibatan empat tersangka yang diduga merupakan personel TNI.


Perwakilan GPBR, M. Dafi Rahman Sinaga, menambahkan bahwa peristiwa ini merupakan bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat di ruang publik. 

Ia mendesak agar aktor intelektual di balik serangan tersebut segera diungkap demi menjamin perlindungan hak asasi manusia ke depan.


Saat ini, Andrie Yunus masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit dengan luka bakar mencapai 24 persen.

Selain itu, tim medis juga mengungkap adanya risiko permanen berupa kemungkinan kehilangan penglihatan pada salah satu mata korban.


Menutup aksi, Muhammad Akbarsyah Sinaga menyampaikan lima tuntutan utama KALIBER, yakni:

1.Mendesak Prabowo Subianto untuk memerintahkan Kapolri dan Komnas HAM mengusut tuntas kasus ini;

2.Menuntut penangkapan dan pengadilan terhadap pelaku serta dalang tanpa pandang bulu;

3.Meminta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memberikan perlindungan maksimal bagi korban dan saksi;

4.Mendorong DPR RI segera membentuk RUU Perlindungan Pegiat Masyarakat Sipil;

5.Mengajak seluruh elemen masyarakat mengawal kasus ini hingga tuntas serta menolak segala bentuk impunitas.


Aksi ditutup dengan seruan lantang dari massa: “Hidup korban! Jangan diam! Lawan!” sebagai simbol perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan dan ketidakadilan.

(PS/SAUFI)
Komentar Anda

Terkini: