![]() |
| Syahrul Amin, S.Sos ( PMII Aceh) |
POSKOTASUMATRA.COM|LHOKSEUMAWE—Pemadaman listrik massal yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat tentu menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat. Namun, bagi sebagian warga, mati lampu mungkin masih bisa dimaklumi sebagai bagian dari gangguan teknis atau keadaan tertentu. Yang menjadi persoalan besar adalah ketika jaringan internet dan komunikasi ikut mati.
Terus terang, banyak masyarakat mungkin berpikir: tidak apa-apa listrik padam sementara, tapi jangan sampai jaringan internet ikut hilang. Sebab di era sekarang, jaringan bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Informasi, komunikasi keluarga, pekerjaan, pendidikan, hingga akses berita darurat semuanya bergantung pada jaringan.
Di Aceh, ketika malam berubah gelap akibat listrik padam dan sinyal ikut menghilang, masyarakat seperti kehilangan akses terhadap dunia luar. Tidak bisa menghubungi keluarga, sulit mengetahui informasi terbaru, bahkan sekadar memastikan kondisi daerah lain pun menjadi kendala. Kegelapan terasa berlipat karena bukan hanya listrik yang padam, tetapi akses komunikasi juga terputus.
Seharusnya, operator telekomunikasi memiliki sistem cadangan daya yang lebih siap. Tower jaringan mestinya tetap dapat beroperasi beberapa jam atau bahkan lebih lama ketika listrik PLN mengalami gangguan. Kehadiran baterai cadangan atau genset bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan penting agar masyarakat tetap terhubung di situasi darurat.
Mati lampu mungkin masih bisa ditahan. Namun, ketika jaringan juga ikut mati, masyarakat bukan hanya kehilangan cahaya, tetapi juga kehilangan akses komunikasi dan informasi. Di zaman sekarang, itu menjadi persoalan yang jauh lebih besar.
Oleh: Syahrul Amin, S.Sos ( PMII Aceh).(PS|DAMRY)
