POSKOTASUMATRA.COM | ACEH TENGGARA — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026 mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Semangat tersebut dinilai memiliki makna penting bagi kalangan santri, bukan hanya dalam konteks kemerdekaan bangsa, tetapi juga dalam membangun kemandirian diri dan menjaga nilai-nilai keislaman.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Hijrah Al-Aziziyyah, H. Syukran, Lc., MA, mengatakan bahwa bagi santri, makna berdaulat harus dimulai dari kemampuan untuk berdiri secara mandiri, memiliki kebebasan berpikir yang tetap berlandaskan akhlak mulia, serta mengambil peran dalam menjaga kedaulatan bangsa dan agama.
“Berdaulat bagi santri berarti memiliki kemandirian mental, kebebasan berpikir yang berlandaskan akhlak mulia, serta peran aktif dalam menjaga kedaulatan bangsa dan agama yang telah diwariskan oleh para pejuang dan pendiri bangsa ini,” ujar H. Syukran, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, kedaulatan santri tidak semata-mata dimaknai sebagai kebebasan dari pengaruh pihak lain, tetapi juga kebebasan dari kebodohan, ketergantungan, serta hawa nafsu yang dapat menghilangkan jati diri.
Santri, kata dia, harus mampu menghadapi perkembangan zaman dan berbagai tantangan modern tanpa kehilangan identitas sebagai generasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
“Santri harus siap menghadapi tantangan zaman modern, tetapi jangan sampai kemajuan zaman membuat kita kehilangan jati diri sebagai santri dan sebagai umat Islam,” tegasnya.
Ia menilai, kemerdekaan yang diwariskan para pejuang bangsa harus diisi dengan pendidikan, akhlak, ilmu pengetahuan, kemandirian serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Karena itu, momentum HUT RI ke-81 diharapkan menjadi pengingat bagi generasi santri untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa, tetapi tampil sebagai bagian dari generasi yang mampu membawa Indonesia menuju kedaulatan, keadilan dan kemakmuran.
“Santri hari ini adalah bagian dari masa depan bangsa. Kemerdekaan harus kita isi dengan ilmu, akhlak dan pengabdian. Dengan begitu, semangat perjuangan para pendiri bangsa tidak berhenti pada sejarah, tetapi terus hidup dalam diri generasi penerus,” pungkas H. Syukran. (PS/ASP)
