Plt Kadistanbun Aceh Raih Serambi Award 2026, Gagas Pemanfaatan Lumpur Sawah Menjadi Batu Bata

/ Minggu, 30 Agustus 2026 / 22.39.00 WIB

POSKOTASUMATRA.COM | BANDA ACEH — Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, menerima penghargaan bergengsi Serambi Award 2026 dalam kategori Penggagas Pemanfaatan Lumpur Sawah Menjadi Batu Bata, Minggu (30/8/2026). 

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang Serambi Award 2026 bertema “Gebrakan Sang Pemimpin”, yang digelar di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Sabtu malam, 29 Agustus 2026.

Dalam ajang tersebut, sebanyak 75 tokoh dan lembaga menerima penghargaan atas kontribusi serta inovasi di berbagai bidang. Salah satu penerimanya adalah Azanuddin Kurnia yang dinilai memiliki gagasan inovatif dalam mempercepat pemulihan lahan pertanian pascabencana.

Gagasan pemanfaatan lumpur yang menimbun areal persawahan menjadi bahan baku batu bata menjadi salah satu terobosan yang mendapat perhatian. Konsep tersebut tidak hanya diarahkan untuk membantu mempercepat pemulihan sawah terdampak, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan material lumpur secara lebih produktif dan bernilai ekonomis.

Azanuddin Kurnia selama ini turut mendorong percepatan penanganan sawah rusak dengan berbagai kategori, mulai dari rusak ringan, sedang hingga rusak berat.

Untuk sawah dengan kategori rusak ringan dan sedang, penanganan ditargetkan dapat dilakukan pada tahun ini dan diharapkan rampung pada akhir tahun. Luas lahan yang menjadi target penanganan mencapai sekitar 40.852 hektare.

Sementara itu, untuk lahan dengan tingkat kerusakan berat, Azanuddin menawarkan sejumlah strategi agar material lumpur pascabencana tidak hanya menjadi persoalan, tetapi dapat diubah menjadi potensi yang memberikan manfaat.

Menurutnya, terdapat empat skema yang dapat dikembangkan dalam penanganan sawah rusak berat.

Pertama, lumpur yang menimbun lahan pertanian dapat dimanfaatkan sebagai material untuk kebutuhan proyek pembangunan melalui mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

Kedua, lahan yang belum dapat segera dikembalikan menjadi sawah dapat dimanfaatkan sementara untuk tanaman yang sesuai dengan kondisi tanah, seperti bawang merah, cabai merah, jagung, ubi kayu, berbagai jenis sayuran, maupun komoditas lain yang diminati petani.

Ketiga, material lumpur dapat dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan bata ringan maupun bata merah melalui kolaborasi bersama berbagai pihak, termasuk Forum Zakat, BRIN, Nurul Hayat, dan Universitas Syiah Kuala.

Sedangkan skema keempat adalah melakukan rehabilitasi sawah rusak berat secara bertahap hingga dapat kembali berfungsi sebagaimana sebelum bencana.

Azanuddin Kurnia mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterimanya. Ia menyebut penghargaan tersebut sebagai anugerah sekaligus motivasi untuk terus bekerja mempercepat pemulihan Aceh, khususnya pada sektor pertanian dan perkebunan.

 “Terkhusus kepada Serambi Indonesia, saya tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan ini. Ini adalah anugerah dari Sang Pencipta. Apa yang saya lakukan adalah berusaha menjalankan tugas sesuai arahan pimpinan untuk mempercepat pemulihan Aceh pascabencana, khususnya pada sektor pertanian dan perkebunan,” ujar Azanuddin saat dikonfirmasi wartawan, Minggu, 30 Agustus 2026.

Ia turut menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Aceh, Wakil Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah Aceh, jajaran Distanbun Aceh, serta seluruh pihak yang selama ini telah membangun kolaborasi dalam mendukung program pemulihan.

Bagi Azanuddin, pemulihan sektor pertanian pascabencana membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan kembali. Diperlukan inovasi agar persoalan yang muncul di lapangan dapat diubah menjadi peluang yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Dari lumpur yang semula menimbun sawah, lahir sebuah gagasan: mengubah persoalan menjadi potensi dan mengembalikan harapan petani untuk kembali bangkit. (PS/ASP)


Komentar Anda

Terkini: