POSKOTASUMATERA.COM – MEDAN – Bagi sebagian masyarakat, keinginan melanjutkan pendidikan tinggi sering kali berhadapan dengan persoalan klasik: pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, keluarga yang harus diurus, jarak tempat tinggal dengan kampus, hingga keterbatasan waktu mengikuti perkuliahan konvensional. Namun, perkembangan teknologi dan model pendidikan jarak jauh perlahan mengubah cara masyarakat memandang kuliah.
Universitas Terbuka (UT) hadir dengan pendekatan yang berbeda. Memasuki usia ke-42 tahun, UT Medan terus memperkuat perannya dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Sumatera Utara. Orientasinya bukan semata mengejar pertumbuhan jumlah mahasiswa, melainkan membangun ekosistem pendidikan yang memungkinkan masyarakat memperoleh kesempatan belajar tanpa harus meninggalkan pekerjaan, keluarga maupun daerah tempat tinggalnya.
Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam peringatan Dies Natalis ke-42 Universitas Terbuka. Melalui sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, UT membawa gagasan bahwa pendidikan tinggi harus semakin inklusif dan adaptif terhadap kondisi sosial masyarakat. Kuliah tidak selalu harus dilakukan dengan kehadiran fisik setiap hari di ruang kelas, karena proses pembelajaran dapat dirancang lebih fleksibel sesuai kebutuhan mahasiswa.
Direktur UT Medan, Yasir Riady, S.S., M.Hum., mengatakan momentum Dies Natalis ke-42 harus menjadi titik tolak untuk memperluas manfaat pendidikan tinggi kepada masyarakat. Menurutnya, akses terhadap pendidikan berkualitas tidak seharusnya hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan.
“Dies Natalis ke-42 menjadi momentum bagi UT Medan untuk terus hadir dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi tidak hanya menjadi milik masyarakat yang berada di kota-kota besar, tetapi juga dapat dirasakan oleh masyarakat di berbagai pelosok Sumatera Utara,” ujar Yasir.
Bukan Hanya untuk Warga Kota
Sumatera Utara memiliki bentang wilayah yang luas dengan karakteristik geografis dan sosial masyarakat yang beragam. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pemerataan akses pendidikan tinggi. Kehadiran perguruan tinggi dengan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh menjadi salah satu alternatif strategis untuk menjembatani kesenjangan akses tersebut.
Model pembelajaran UT memungkinkan berbagai kelompok masyarakat tetap memperoleh kesempatan mengembangkan kompetensi akademik. Pekerja dapat melanjutkan kuliah, pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas pendidikan, orang tua dapat kembali belajar, sementara masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota tidak harus meninggalkan kampung halaman untuk memperoleh pendidikan tinggi.
Dalam perspektif pembangunan sumber daya manusia, fleksibilitas tersebut memiliki arti penting. Pendidikan tidak hanya menjadi aktivitas akademik, tetapi juga instrumen peningkatan kapasitas individu yang dapat berlangsung beriringan dengan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Yasir menilai perkembangan teknologi digital semakin memperkuat kapasitas UT Medan dalam memberikan layanan pendidikan yang lebih luas. Transformasi digital memungkinkan interaksi akademik, akses bahan pembelajaran dan berbagai layanan pendidikan dilakukan secara lebih fleksibel.
“Perkembangan teknologi digital memberikan peluang yang semakin besar bagi UT Medan untuk menghadirkan layanan pendidikan yang lebih mudah, fleksibel, dan inklusif,” katanya.
SALUT Jadi Ujung Tombak
Perluasan akses tersebut tidak hanya mengandalkan sistem pembelajaran jarak jauh. UT Medan juga terus memperkuat jaringan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) sebagai salah satu simpul pelayanan yang mendekatkan UT kepada masyarakat.
Keberadaan SALUT menjadi penting karena pendidikan jarak jauh tetap membutuhkan dukungan layanan yang mudah dijangkau. Calon mahasiswa maupun mahasiswa dapat memperoleh informasi serta pendampingan terkait berbagai kebutuhan layanan pendidikan melalui jaringan tersebut.
Dengan penguatan SALUT, kehadiran UT di Sumatera Utara tidak lagi identik hanya dengan Kota Medan. Layanan pendidikan diharapkan semakin dekat dengan masyarakat di berbagai kabupaten dan kota, sehingga jarak geografis tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk meningkatkan pendidikan dan kompetensinya.
Gandeng Pemerintah dan Dunia Usaha
UT Medan juga menyadari bahwa pemerataan pendidikan tinggi membutuhkan kerja kolaboratif. Karena itu, sinergi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, alumni dan berbagai pemangku kepentingan terus didorong untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi tersebut tidak berhenti pada persoalan peningkatan angka partisipasi pendidikan. Lebih jauh, sinergi diarahkan untuk menghasilkan sumber daya manusia Sumatera Utara yang kompeten, adaptif, memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat, serta mampu mengikuti dinamika perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
“Sumatera Utara memiliki wilayah yang luas dengan karakteristik masyarakat yang beragam. Karena itu, pendekatan pendidikan tidak bisa hanya berorientasi pada satu wilayah. UT Medan harus mampu menjadi jembatan bagi masyarakat di berbagai daerah untuk memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas,” tegas Yasir.
Di usia ke-42 tahun, perjalanan UT sekaligus memperlihatkan perubahan paradigma pendidikan tinggi. Kampus tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai gedung tempat mahasiswa datang untuk belajar, tetapi sebagai ekosistem pengetahuan yang dapat menjangkau masyarakat melampaui batas ruang dan waktu.
Bagi masyarakat Sumatera Utara, pesan itu sederhana tetapi kuat: ingin kuliah tidak harus meninggalkan pekerjaan, tidak harus pindah kota, dan tidak harus meninggalkan kampung halaman. Ketika akses pendidikan semakin terbuka, jarak bukan lagi alasan untuk berhenti mengejar masa depan. (PS/BERMAWI)



