Oleh: Syamsul Lubis, S.Pd., M.Pd.Alumni Pascasarjana Universitas Negeri Medan prodi : Pendidikan Olahraga
Ada pertanyaan yang layak diajukan dalam perjalanan olahraga daerah kita : mengapa menjadi tuan rumah PORPROVSU belum sepenuhnya dipandang sebagai salah satu instrumen pembangunan olahraga untuk perkuat ekosistem percepatan prestasi
Memandang PORPROVSU jangan hanya dipahami sebagai agenda rutin empat tahunan: memilih tuan rumah, membangun atau memperbaiki venue, menyambut kontingen, mempertandingkan atlet, membagikan medali, lalu selesai.
Jika demikian cara kita berpikir, PORPROVSU hanya akan menjadi pesta olahraga, bukan pembangunan olahraga.
Padahal, Sumatera Utara bukan hanya Medan dan beberapa kota besar. Di pelosok provinsi ini terdapat anak-anak muda yang memiliki talenta luar biasa, tetapi tidak semuanya tumbuh dalam lingkungan yang memiliki fasilitas olahraga memadai.
Sebuah pemikiran dan ide bahwa sudah waktunya konsep menjadi tuan rumah PORPROVSU dikaji ulang. Selain sarana prasarana, faktor keberanian dan kajian kebermanfaatan yang lebih besar, layak rasanya " orang daerah menyusun tekad serta memantapkan diri untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan event berskala antar kabupaten kota
Tentu tak elok mendengar statement bahwa PORPROVSU Menjadi “Hak Istimewa” daerah atau kewilayahan tertentu saja
Kita sadar betul bahwa untuk menjadi tuan rumah memang membutuhkan kesiapan. Tetapi kalau alasan kesiapan selalu digunakan untuk kembali menunjuk daerah yang sama, menurut penulis , maka kita sedang menciptakan lingkaran yang sulit diputus.
Daerah yang sudah memiliki fasilitas akan terus mendapatkan event. Karena terus mendapatkan event, fasilitas dan sumber daya manusianya semakin berkembang. Sementara daerah yang belum memiliki fasilitas akan terus dianggap belum siap.
Kalau pola ini dipertahankan, kapan daerah lain akan pernah siap, kapan Tabagsel akan tampil sebagai venue, Silbolga Tapteng, Tapanuli bagian Utara, Nias, kawan Dairi, Pakpak sekitarnya.
Di sinilah konsep rotasi tuan rumah menjadi penting dan layak dipertimbangkan. Rotasi bukan berarti semua daerah harus dipaksakan menjadi tuan rumah. keberanian membuat peta jalan pemerataan dan memberikan kesempatan kepada daerah untuk mempersiapkan diri pastinya akan menjadi sebuah percepatan pembangunan olahraga secara gradual, berkaca dari pelaksanaan POPPROVSU ( dulu POPDASU ) yang sempat diputar diluar lingkar pantai timur.
Usulan kita, semestinya daerah yang belum siap hari ini harus diberi target agar siap pada waktunya, mungkin tidak periode ini, periode berikut, atau episode yang akan datang. Layaknya pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional, edisi menjadi tuan rumah diputar, istilahnya dibidding sesuai standar penawaran juga kelayakan serta daya dukung.
Pastinya kita sepakat bahwa menjadi tuan rumah tidak sebatas hanya mengejar gengsi, jauh dari itu menjadi tuan rumah adalah juga hadirnya program pembangunan keolahragaan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas olahraga, sarana pendukung, penyiapan SDM keolahragaan serta support sistem yang terintegrasi dalam konteks pembangunan kewilayahan dan kebijakan daerah.
Dalam perjalanan menjadi tuan rumah event besar, seperti event nasional, atau tingkat kabupaten kota, ada sisi lain yang pantas dan harus dikritisi ketika perebutan status tuan rumah berubah menjadi perebutan gengsi antar daerah tanpa dibarengi kesiapan dan dukungan antar lini pemerintah dan stakeholder olahraga serta masyarakat.
Kita sadari bahwa menjadi tuan rumah bukan sekadar soal seremoni pembukaan yang megah, baliho yang memenuhi jalan, atau pertandingan yang berlangsung meriah, pertanyaan yang muncul justru sisi terpenting yang menjadi buah pikiran : setelah PORPROVSU selesai, apa yang tersisa untuk masyarakat?
Kalau venue kembali sepi, fasilitas tidak terawat, klub tidak berkembang, atlet tidak dibina, dan kompetisi usia muda tidak berlanjut, maka kita patut bertanya: untuk apa investasi besar itu dilakukan?
PORPROVSU harus meninggalkan warisan, bukan sekadar kenangan, jangan bangun venue hanya karena ada event. Ini persoalan yang sering muncul dalam penyelenggaraan olahraga.
Ketika sebuah daerah ditetapkan menjadi tuan rumah, pembangunan fasilitas dikebut. Setelah event selesai, pemanfaatannya tidak selalu jelas.
Paradigma seperti ini harus dihentikan.
Venue harus dibangun karena daerah membutuhkan pusat pembinaan olahraga, sedangkan PORPROVSU menjadi salah satu pemanfaatannya dan agenda daerah lain yang akan mengisi ruang ruang dianyara sarana prasarana olahraga yang dibangun.
Dengan demikian, pembangunan tidak berhenti pada proyek fisik, sebuah gedung olahraga harus melahirkan atlet. Lapangan harus melahirkan kompetisi. Stadion harus melahirkan prestasi.
Kalau tidak, bangunan itu hanya akan menjadi monumen mahal yang sesekali dibuka ketika ada acara. Sumatera Utara memiliki wilayah yang luas dan karakter daerah yang berbeda. Karena itu, pantas rasanya memaksakan satu kabupaten/kota menjadi penyelenggara seluruh cabang olahraga bukan selalu pilihan paling efisien.
Konsep tuan rumah berbasis klaster patut dipertimbangkan. Satu daerah menjadi tuan rumah utama. Kabupaten/kota di sekitarnya menjadi tuan rumah pendukung sesuai kesiapan fasilitas.
Dengan cara ini, PORPROVSU dapat menjadi milik satu kawasan, bukan hanya milik satu kota. Biaya dapat ditekan. Fasilitas yang sudah ada dapat dimaksimalkan. Dampak ekonomi menyebar. Dan yang paling penting, lebih banyak daerah mendapatkan pengalaman menjadi bagian dari penyelenggaraan event olahraga terbesar di tingkat provinsi.
Jangan pula melihat PORPROVSU hanya dari sisi medali, Ketika ratusan bahkan ribuan atlet, pelatih dan ofisial datang, ada peluang ekonomi yang sangat besar. Penginapan terisi. Rumah makan ramai. Transportasi bergerak. UMKM mendapatkan konsumen. Produk lokal memperoleh panggung promosi.
Bahkan, PORPROVSU dapat dikembangkan menjadi bagian dari sport tourism. kontingen yang datang untuk bertanding seharusnya pulang membawa cerita tentang daerah yang mereka kunjungi.
Artinya, olahraga bisa menjadi pintu masuk bagi pariwisata dan ekonomi kreatif. Pemerataan prestasi dimulai dari pemerataan juga kesempatan
Kita sepakat dan tentu berharap daerah kita Sumatera Utara akan menjadi kekuatan olahraga nasional dengan pemerataan pembinaan olahraga yang lebih merata dengan dukungan infrastruktur keolahragaan yang membumi, walau tak harus sama porsi, minimal ada dan mendekati standart lomba skala daerah
Keberadaan fasilitas yang memadai akan membuka kesempatan berlatih berkembang bagi komunitas olahraga secara keseluruhan. Keberadaan venue yang layak akan menjadi ruang untuk tumbuh baik talenta talenta daerah untuk bisa sejajar dengan daerahnya saudara- saudara kita yang terdahulu maju dan berkembang
Rotasi tuan rumah event daerah dapat menjadi salah satu instrumen majunya tata kelola olahraga prestasi daerah. Proses keterpilihan untuk menjadi tuan rumah event daerah bisa menjadi indikator
bagi sebuah daerah untuk menyusun program pembangunan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, dengan mengetahui bahwa lima atau sepuluh tahun lagi mereka akan menjadi tuan rumah, pemerintah daerah memiliki alasan kuat untuk membangun program pembinaan lebih dini melalui pendekatan program dan skala prioritas daerah.
Ekosistem pembangunan olahraga terangkum dalam kerja kolektif mulai dari pemerintah, Organisasi olahraga, program pembinaan disekolah, progres pencapaian visi prestasi lebih jelas.
Yang secara simultan berdampak kepada peningkatan kapasitas SDM Keolahragaan Tentu kita berharap PORPROVSU menjadi pemicu pembangunan,
Berharap banyak, akan muncul atlet-atlet baru dari berbagai penjuru Sumatera Utara untuk kelak membanggakan kita dengan berjaya dilevel nasional.
Pemikiran untuk menata roadmap tuan rumah PORPROVSU jangka panjang, misalnya untuk 10–20 tahun ke depan. Akan menjadi kesempatan daerah untuk mempersiapkan diri jauh hari untuk meningkatkan standar kelayakan dan kesiapan .
Pada akhirnya, apakah berani memantaskan diri untuk menjadi tuan rumah. Sebab kalau setiap empat tahun kita hanya memindahkan atlet ke tempat pertandingan, kita belum benar-benar memindahkan pusat pertumbuhan olahraga.
Tetapi jika setiap penyelenggaraan mampu membuat daerah tuan rumah memiliki fasilitas lebih baik, atlet lebih banyak, kompetisi lebih hidup, pelatih lebih berkualitas dan ekonomi masyarakat lebih bergerak, maka PORPROVSU telah menjalankan fungsi yang jauh lebih bermakna
PORPROVSU sebagai event yang ditunggu tunggu para atlet berbagai latar, tidak hanya menghasilkan juara, tetapi mestinya harus menghasilkan ekosistem olahraga baru dengan semangatnya terbarukan.
Dan mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:“Siapa yang paling siap menjadi tuan rumah?”Lalu menggantinya dengan pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Daerah mana yang harus didorong agar menjadi siap?” kiranya kita sepakat Bahwa pembangunan olahraga yang sehat bukanlah pembangunan yang terus berputar di tempat yang sama. Karena ilahraga Sumatera utara harus bergerak. Dan pusat pertumbuhannya pun harus bertumbuh hingga akhirnya semangat menuju pentas juara semakin membumi. Aku ada Karena kau pun ada
