Peternak Ikan di Kecamatan Biru Biru Terancam Gulung Tikar Imbas Penutupan Bendungan Lau Semei Mei

/ Sabtu, 19 September 2026 / 14.03.00 WIB

 


POSKOTASUMATERA.COM-DELISEEDANG-Pengisian air bendungan Lau Semei mei Kecamatan Biru Biru Kabupaten Deli Serdang, berimbas besar bagi masyarakat khususnya peternak ikan yang bersumber dari aliran irigasi sungai Saruai.

Ancaman kerugian juma menghantui warga pasca Penutupan aliran sungai yang dilakukan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II Medan pada Kamis, 17 September 2026 guna memulai proses Pengisian Awal Air (Initial Impounding) pada Bendungan Lau Simemei.

Proses penutupan dan pengisian awal waduk ini menimbulkan sejumlah dampak negatif yang signifikan bagi warga di hilir, khususnya para peternak ikan, di antaranya:,
Penurunan Drastis Debit Air (Kekeringan Kolam): Ketika terowongan pengelak ditutup untuk mengisi waduk, aliran air ke hilir berkurang secara ekstrem atau bahkan sempat terhenti sementara.

 Akibatnya, pasokan air ke kolam-kolam budidaya ikan di daerah hilir menyusut tajam, memicu risiko kekeringan masif pada kolam. 

 Berkurangnya volume dan perputaran air secara mendadak membuat kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) di dalam kolam turun drastis. Kondisi ini dapat menyebabkan ikan stres, lemas, hingga mati massal dalam waktu singkat

Selanjutnya, selama masa konstruksi hingga pengisian awal, air sungai rentan menjadi sangat keruh akibat endapan lumpur dan material proyek. 

Air yang kotor dan terkontaminasi ini merusak ekosistem kolam serta mengganggu kesehatan benih maupun ikan dewasa. 

 Kematian ikan secara mendadak atau keterlambatan pertumbuhan akibat kualitas air yang buruk memaksa peternak menanggung kerugian materi yang besar, bahkan berisiko gulung tikar karena modal usaha yang tidak kembali.

Resiko ini di sampaikan langsung oleh ketua P3AI, desa Namosuro Baru, Ismail Ginting.pada Sabtu (19/9/2026).

Kepada media ini, Ismail menjelaskan secara rinci dampak negatif terhadap penutupan dan pengisian awal waduk bendungan simei mei, yang memanfaatkan debit air sei simeimei, sehingga , aliran air berkurang volumenya ke hilir.

 "Kami warga Desa Namo Suro Baru menyampaikan keprihatinan mendalam atas terjadinya penurunan debit air Sungai Seruai secara drastis, pasca penutupan/pengaturan aliran air yang dilakukan Balai Wilayah Sungai II pada hari Kamis, 17 September 2026."katanya.

Lanjutnya, saat ini pasokan air ke kolam‑kolam ikan warga sudah berkurang sangat banyak dan kian menipis. Kami sangat resah dan khawatir — jika kondisi ini berlanjut terus, kolam akan kekeringan, air menjadi dangkal serta memburuk, dan ikan budidaya yang menjadi sumber penghidupan keluarga kami bisa mati serta merugi besar.

 Kami memohon perhatian dan penjelasan pihak terkait, serta solusi segera agar aliran air sungai tetap terjaga cukup dan tidak mematikan usaha serta mata pencaharian warga di sini.tegas Ismail.

Hingga berita ini di terbitkan pihak BWS 2
belum dapat di konfirmasi.
 Demikian juga Kepala desa Namosuro Baru , Janial Ginting, ketika di konfirmasi waratawan melalui pesan whatsapp terkait keresahan warganya tersebut, belum menjawab. (PS/P Limbong)
Komentar Anda

Terkini: