POSKOTASUMATRA.COM | ACEH TENGGARA — Akses jalan provinsi di kawasan Gurah, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, tepatnya di kawasan wisata Ketambe, sempat lumpuh akibat pohon tumbang pada Minggu (27/9/2026) dini hari.
Pohon berukuran cukup besar tersebut melintang di badan jalan dan membuat sejumlah pengguna jalan terjebak sejak dini hari. Kondisi ini memantik kekecewaan masyarakat yang berada di lokasi lantaran penanganan disebut belum terlihat hingga pagi.
Salah seorang pengguna jalan, Taufik, mengaku dirinya terjebak sejak sekitar pukul 01.00 WIB. Ia mempertanyakan kecepatan respons pemerintah daerah dalam menangani gangguan akses jalan tersebut.
"Kami terjebak dari jam 01.00 WIB. Kami kecewa menunggu penanganan dari Pemda, tetapi tidak ada. Pagi ini justru kami melihat pihak Hutama Karya (HK) yang lebih cepat datang menangani pohon tumbang ini," ujar Taufik kepada Poskotasumatra.com, Minggu (27/9/2026).
Kekecewaan Taufik semakin mencuat ketika dirinya bersama masyarakat mempertanyakan tim yang datang untuk melakukan penanganan.
"Kami bertanya kepada tim yang datang, bukannya dari Pemda, malah dari pihak HK. Mereka dibantu warga dan masyarakat yang terjebak di lokasi pohon tumbang ini, Pak," ungkapnya.
Menurut Taufik, masyarakat yang terjebak akhirnya ikut turun tangan membantu proses pembersihan material pohon agar akses jalan dapat kembali dilalui.
"Kami masyarakat yang terjebak juga ikut membantu. Kami tentu berterima kasih kepada pihak HK dan warga yang turun tangan. Tapi kami berharap kejadian seperti ini menjadi perhatian pemerintah. Jangan sampai masyarakat sudah berjam-jam terjebak baru penanganan dilakukan," katanya.
BPBD: Pagi Ini Kami Dapat Informasi
Di sisi lain, Kalaksa BPBD Aceh Tenggara, Asli, memberikan penjelasan terkait penanganan tersebut.
Asli menyampaikan bahwa BPBD baru mendapatkan informasi mengenai kejadian pohon tumbang pada pagi hari. Setelah informasi diterima, pihaknya langsung mengerahkan personel menuju lokasi.
"Pagi ini kita dapat informasi terkait pohon tumbang dan sudah bergerak anggota BPBD ke lokasi dengan membawa sinso 2 unit," kata Asli.
Perbedaan keterangan antara pengalaman masyarakat di lokasi dengan waktu BPBD menerima informasi menjadi sorotan tersendiri. Sebab, bagi pengguna jalan yang terjebak sejak dini hari, hitungan waktu sangat berarti ketika akses utama tertutup dan tidak dapat dilalui.
Kejadian ini juga kembali menyoroti pentingnya respons cepat dan koordinasi antarpihak dalam menangani gangguan jalan, terlebih lokasi tersebut berada di jalur provinsi dan kawasan wisata Ketambe.
Masyarakat berharap kejadian serupa tidak terulang dengan pola penanganan yang lambat. Sistem informasi darurat dan koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, instansi terkait, serta pihak pengelola jalan dinilai perlu diperkuat agar masyarakat tidak menjadi pihak yang paling lama menanggung dampak ketika akses jalan terganggu.
Kini pertanyaannya sederhana: ketika masyarakat sudah terjebak sejak pukul 01.00 WIB, siapa yang paling cepat hadir di lapangan—dan bagaimana memastikan ke depan respons terhadap kondisi darurat tidak kembali terlambat? (PS/ASP)
