Banjir Kepung Jalan Kutacane–Medan, BWS Sumatera I Didesak Segera Perbaiki Tanggul

/ Minggu, 11 Oktober 2026 / 11.52.00 WIB

POSKOTASUMATRA.COM | ACEH TENGGARA — Jebolnya tanggul Kali Bulan yang menyebabkan banjir mengepung ruas jalan provinsi Kutacane–Medan memicu kekhawatiran masyarakat. Tak hanya mengancam kondisi badan jalan, luapan air juga membuat warga Desa Bambel Gabungan dan Desa Terutung Perai, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, dihantui kecemasan terhadap kemungkinan banjir susulan.

Berdasarkan pantauan awak media, air yang meluap akibat jebolnya tanggul Kali Bulan menggenangi badan jalan provinsi. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena genangan berpotensi memperparah kerusakan aspal, terlebih sejumlah bagian jalan disebut telah berusia cukup lama dan sebagian lainnya baru mendapatkan penanganan melalui penambalan aspal atau patching.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat mendesak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I segera menangani tanggul yang jebol. Sementara itu, BPJN Wilayah 3.5 diharapkan mengambil langkah sesuai kewenangannya untuk mengantisipasi dampak banjir terhadap infrastruktur jalan.

Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar genangan air di badan jalan. Selama tanggul belum tertangani, kekhawatiran terhadap peningkatan debit sungai secara tiba-tiba masih membayangi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran Kali Bulan.


BPJN Khawatir Aspal dan Patching Kembali Rusak


Pihak BPJN Wilayah 3.5 melalui Jaya Juliadi menyampaikan bahwa pihaknya meminta BWS Sumatera I segera memperbaiki tanggul yang jebol agar masyarakat tidak terus dihantui kekhawatiran terhadap ancaman banjir.

“Kita meminta kepada BWS agar memperbaiki tanggul yang jebol, agar masyarakat tidak merasa was-was atas banjir yang sewaktu-waktu bisa membesar,” kata Jaya Juliadi kepada awak media, Minggu (11/10/2026).

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi jalan yang telah diperbaiki, mengingat luapan air berpotensi merusak lapisan aspal yang sudah cukup lama digunakan.

“Bahkan kami juga takutkan jalan yang sudah kami perbaiki bisa rusak lagi akibat banjir ini. Aspal di sepanjang jalur yang dilalui banjir bisa dikatakan sudah tua. Kami juga khawatir patching yang baru diperbaiki akan kembali terkupas apabila terus diterjang air banjir,” ujarnya.

Jaya menjelaskan, pihak BPJN bukan tidak ingin membantu penanganan di lapangan. Namun, menurutnya, alat berat yang dimiliki saat ini sedang dikerahkan untuk menangani badan jalan yang longsor di wilayah Ketambe.

“Bukannya kami tidak mau membantu, tetapi alat berat kami berada di badan jalan yang longsor di Ketambe, Pak,” ungkap Jaya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan banjir dan perlindungan infrastruktur membutuhkan koordinasi antarlembaga. Penanganan tanggul perlu diperjelas oleh instansi yang berwenang atas sungai, sementara perlindungan badan jalan harus ditangani sesuai status dan kewenangan pengelolanya.


Salamudin: Jangan Selalu Pemda yang Disalahkan


Sementara itu, Salamudin, salah seorang warga, mendesak agar penanganan banjir tidak hanya dibebankan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara. Ia meminta BWS Sumatera I dan BPJN turut mengambil langkah konkret sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

“Jangan selalu Pemda yang disalahkan. Dalam persoalan banjir ini ada kewenangan masing-masing. BWS di bagian sungai, sedangkan BPJN di bagian jalan sesuai kewenangannya. Kami berharap BWS jangan menutup mata dengan keadaan sekarang ini,” ujar Salamudin kepada awak media.

Menurut Salamudin, masyarakat Desa Bambel Gabungan dan Desa Terutung Perai membutuhkan kepastian penanganan tanggul yang jebol, bukan sekadar peninjauan atau pembahasan tanpa kejelasan tindak lanjut.

Ia berharap pihak terkait segera berkoordinasi untuk mengurangi risiko banjir susulan, melindungi permukiman warga, serta mencegah kerusakan jalan semakin parah.

Bagi masyarakat, persoalan ini menyangkut keselamatan, kenyamanan, dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, warga meminta agar penanganan tidak terhambat oleh persoalan koordinasi antarlembaga.


BWS Sumatera I Belum Memberikan Tanggapan


Untuk memperoleh penjelasan mengenai penanganan tanggul Kali Bulan yang jebol, awak media telah berupaya mengonfirmasi Farid dari pihak BWS Sumatera I. Konfirmasi tersebut mencakup langkah penanganan darurat, rencana perbaikan tanggul, serta kesiapsiagaan alat berat untuk mengantisipasi kondisi darurat di bantaran sungai.

Namun, hingga berita ini disusun, Farid belum memberikan tanggapan kepada awak media. Oleh sebab itu, status penanganan dan jadwal perbaikan tanggul masih memerlukan penjelasan resmi dari pihak BWS Sumatera I.

Masyarakat berharap BWS segera memberikan respons dan memastikan langkah penanganan sesuai kewenangannya. Pasalnya, jebolnya tanggul bukan hanya menimbulkan genangan, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga dan keberlangsungan akses transportasi.

Kini, warga Desa Bambel Gabungan dan Desa Terutung Perai menantikan tindakan nyata dari instansi terkait. Perbaikan tanggul, koordinasi penanganan banjir, dan perlindungan badan jalan menjadi kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak terus hidup dalam kekhawatiran setiap kali debit air Kali Bulan meningkat.

Masyarakat membutuhkan kepastian penanganan, bukan saling menyalahkan. BWS Sumatera I diharapkan memberikan penjelasan mengenai langkah perbaikan tanggul, sementara BPJN dan pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi untuk meminimalkan dampak banjir terhadap jalan dan permukiman warga. (PS/ASP) 


Komentar Anda

Terkini: