POSKOTASUMATERA.COM-HUMBAHAS,-Di Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat. deru hujan telah reda, tetapi dera kepedihan masih menggantung di udara. Pepohonan roboh, tanah longsor menggunung, dan sungai kecil yang dulu jernih kini berubah menjadi aliran cokelat pekat membawa serpihan kehidupan warga.
Di tengah pemandangan memilukan itu, hadir seorang pemimpin yang langkahnya perlahan namun pasti melangkah di antara lumpur, bukan sekadar meninjau, tetapi untuk memastikan rakyatnya tidak kehilangan harapan.
Dialah Bupati Humbang Hasundutan, yang sejak pagi buta berada di lokasi tanpa peduli lumpur yang melekat di sepatu botnya. Pakaian hitamnya bertabur tanah, wajahnya letih, tetapi sorot matanya menunjukkan satu hal: ia tidak datang hanya sebagai pejabat, ia datang sebagai sesama manusia yang hatinya ikut terluka.
Saat Bupati tiba, hujan tipis masih jatuh seperti air mata langit. Deretan alat berat berjuang menyingkirkan material longsor setinggi dada orang dewasa. Para petugas BPBD berselimut lumpur karena bekerja tanpa jeda sejak malam sebelumnya.
Warga desa berdiri memandang rumah dan kebun mereka yang tertimbun, sebagian menangis, sebagian hanya terdiam dalam keheningan yang lebih keras dari suara apa pun.
Bupati berjalan menyusuri jalur berlumpur sambil mengusap wajah, seolah memastikan dirinya tidak bermimpi melihat kehancuran sedemikian besar. Ia berhenti di titik longsor utama, memandang bukit yang terbelah.
“Saya seperti melihat tanah ini menangis. Dan kalau tanah menangis, warganya pasti lebih terluka lagi,” ucapnya pelan.
Kata-kata itu terucap begitu lirih, namun cukup kuat membuat seorang relawan yang berdiri di dekatnya ikut menunduk, menahan sesak di dada.
Sekitar sepuluh menit, Bupati duduk sendirian di atas batu besar yang setengah tertanam lumpur. Tangannya memegang alat komunikasi, tetapi jemarinya tampak gemetar.
Sesekali ia menatap petugas di kejauhan, sesekali menunduk, seolah tengah menimbang banyak hal dari keselamatan warga hingga rencana jangka panjang untuk memulihkan desa ini.
“Saya sedih, sangat sedih. Tapi saya tahu, saya tidak boleh tenggelam dalam kesedihan. Warga butuh saya berdiri, bukan bersedih terus. Mereka menunggu kepastian, bukan keluhan. Dan saya akan berikan itu… apa pun caranya.”
Ketika ia mengucapkannya, suaranya nyaris pecah. Tetapi ia menarik napas panjang, mengembalikan keteguhan yang sempat terguncang.
Di tenda darurat, seorang ibu memeluk anak kecilnya yang masih ketakutan mendengar suara gemuruh longsor semalam. Ketika Bupati masuk ke tenda, ibu itu langsung meraih tangannya, menangis sambil berkata:
“Pak… tolong kami. Rumah kami hilang semua. Kami tidak tahu harus ke mana lagi.”
Bupati tidak menjawab dengan kata-kata panjang. Ia meraih tangan ibu itu dengan kedua tangannya, menggenggam erat.
“Selama saya masih di sini, kalian tidak akan dibiarkan sendirian. Itu janji saya, Bu.”
Seorang kakek yang kehilangan ladangnya menghampiri, menggenggam bahu Bupati, dan berujar dengan suara serak:
“Terima kasih sudah datang, Pak. Setidaknya kami tidak merasa dilupakan.”
Kata-kata itu membuat Bupati memejamkan mata, menahan air mata yang hampir jatuh.
“Tidak ada satu pun warga yang akan saya biarkan terlupakan, Kek. Tidak satu pun.”
Meski bencana memisahkan banyak keluarga dari rumahnya, bencana juga mempersatukan banyak orang.
- Relawan dari desa lain datang membawa makanan.
- Anak-anak muda membantu membuat jalur evakuasi kecil.
- Para petani yang biasanya bekerja sendiri kini bergotong royong membantu tetangganya.
- Para ibu memasak di dapur darurat tanpa lelah, memberi makan siapa pun yang datang.
“Ketika saya melihat warga saling membantu seperti ini, saya yakin… bencana boleh menghancurkan tanah, tetapi tidak akan pernah bisa menghancurkan hati kita.”
Harapan yang Disemai di Tengah Runtuhan
Dalam rapat kecil di lokasi, Bupati menginstruksikan:
- alat berat bekerja bergiliran 24 jam,
- tim kesehatan berjaga di posko,
- logistik tidak boleh terputus,
- anak-anak harus mendapat perhatian khusus,
- penanganan psikososial segera dilakukan,
- setiap rumah rusak harus didata cepat,
- rencana relokasi sementara disiapkan.
Ia menutup arahannya dengan kalimat yang membuat semua yang hadir menundukkan kepala, merasakan getarannya:
“Hari ini kita melihat tanah runtuh. Tapi besok, kita akan melihat kita bangkit lagi. Saya percaya itu. Karena tidak ada kekuatan yang lebih besar dari manusia yang saling menggenggam tangan di waktu tersulit.”
Saat Bupati hendak meninggalkan lokasi untuk meninjau titik lainnya, beberapa warga berlari kecil menghampirinya. Mereka sekadar ingin berjabat tangan, memberi salam, atau sekadar berkata “terima kasih” walau dengan suara bergetar.
Bupati membalas semuanya, satu per satu. Bahkan ketika lumpur menyelimuti sepatu botnya hingga hampir ke lutut, ia tetap melangkah, tetap menyapa, tetap menguatkan.
Sebelum masuk mobil, ia menatap sekali lagi ke arah longsoran. Ia menggeleng pelan, menghembuskan napas dalam."Lalu ia berkata pelan, namun penuh keyakinan:
“Kita mungkin sedang jatuh, tapi kita tidak akan tetap di bawah. Kita akan bangkit. Kita harus bangkit. Demi anak-anak kita… demi masa depan Humbang Hasundutan.”
Dan di antara tanah yang pecah dan sisa banjir yang mengalir perlahan, kata-kata itu menjadi obor kecil yang menerangi duka. (PS/BN)
