![]() |
| Sufri, S.Ag, M.M | Kadis Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe |
POSKOTASUMATERA.COM | LHOKSEUMAWE -- Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe melaksanakan kegiatan Pelatihan Dai Dalam Pemanfaatan Media Digital Dalam Wilayah Kota Lhokseumawe, dengan tujuan utama adalah agar para Dai mampu menciptakan seni dalam menggemas pesan Agama melalui media digital, acara ini berlangsung di Wisma Kuta Karang dari tanggal 19 sampai dengan 22 Mei 2026.
Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim). Hadis ini merupakan mandat besar bagi setiap Dai di Kota Lhokseumawe agar mampu untuk memanfaatkan segala sarana yang ada demi menyebarkan kebaikan, termasuk media digital.
Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe Sufri S.Ag, M.M, kepada Poskota baru baru ini di ruang kerjanya. Menurut Sufri, Di era zettabyte saat ini, sarana paling efektif dan masif yang ada di genggaman kita adalah media sosial. Bagi Dai, media sosial bukan sekadar tempat pamer gaya hidup, melainkan “mimbar digital” yang mampu menembus batas ruang dan waktu.
Transformasi Dakwah di tangan Dai
dahulu, dakwah hanya identik dengan khutbah di atas mimbar masjid atau pengajian di majelis taklim. Namun saat ini, wajah dakwah telah bertransformasi. Sebuah desain grafis yang estetik, video pendek (Reels/TikTok) yang menyentuh, atau tulisan reflektif di caption Instagram bisa menjadi wasilah hidayah bagi para Dai di Kota Lhokseumawe.
Melalui Pelatihan Dai ini, kata Sufri, seorang Dai harus memiliki keunggulan intelektual dan kreativitas untuk mengemas konten dakwah menjadi lebih relevan. Jika konten maksiat diproduksi secara profesional, maka konten kebenaran tidak boleh dibuat ala kadarnya. Dai atau para pendakwah harus berperan sebagai kreator konten yang mengisi ruang hampa di hati para pengguna internet dengan nilai-nilai tauhid dan akhlakul karimah.
Media sosial laksana pisau bermata dua. Di satu sisi ia bisa menjadi ladang pahala, di sisi lain ia bisa menjadi sumber fitnah dan dosa jariyah. Fenomena cyber-bullying, penyebaran hoaks, hingga konten yang merusak moral remaja muslim menjadi tantangan nyata. Di sinilah peran pendakwah sangat dibutuhkan, ungkap Sufri yang juga alumni salah satu Pesantren di Aceh.
Output dari Pelatihan Dai ini supaya Dai dai di Kota Lhokseumawe mampu menjadi produsen konten positif. Ketika seorang Dai mengunggah kutipan ayat, potongan hadis, atau opini Islami mengenai isu terkini, ia sedang melakukan perlawanan terhadap arus negatif. Ia sedang membangun benteng pertahanan bagi iman masyarakat dan adik-adik remaja yang setiap hari terpapar polusi digital.
Satu hal yang luar biasa dari media sosial adalah jangkauannya. Sebuah tulisan bermanfaat yang dibuat oleh seorang Dai bisa dibaca oleh orang di belahan bumi lain. Inilah yang disebut dengan efisiensi dakwah. Kita tidak perlu berkeliling dunia untuk berdakwah; cukup dengan satu klik, pesan kebaikan itu bisa menyebar (viral) ke seluruh penjuru dunia.
Media sosial adalah amanah. Kelak, setiap unggahan, komentar, dan like kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Menjadikan akun media sosial sebagai portofolio dakwah adalah keputusan paling cerdas yang bisa diambil oleh seorang Dai.
Jangan biarkan jempolmu diam ketika kemungkaran berseliweran di beranda. Mulailah berdakwah, mulailah menulis, mulailah mendesain, dan mulailah berbicara tentang kebenaran melalui layar ponsel para Dai di Kota Lhokseumawe, demikian closing statemen Kadis Syariat Islam dan Pendidikan Dayah Kota Lhokseumawe Sufri S.Ag, M.M. (PS | DAMRY)
