Bupati Tapsel Harap Ormas Islam Ambil Peran Percepat Pemulihan Pascabencana dan Bangkitkan Ekonomi Masyarakat

/ Jumat, 02 Oktober 2026 / 18.37.00 WIB

Bupati Tapsel Menghadari Kegiatan Silatirrahmi dan Koordinasi Membangun Sinergi Antar Ormas Islam Se Kabupaten Tapanuli Selatan di Kantor MUI Kab.Tapsel

POSKOTASUMATERA.COM-TAPANULI SELATAN – Pemulihan pascabencana di Kabupaten Tapanuli Selatan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan kembali infrastruktur yang rusak. Pemulihan ekonomi, penguatan ketahanan sosial, serta pemulihan mental dan spiritual masyarakat juga menjadi bagian penting agar masyarakat terdampak mampu kembali menjalani kehidupan secara mandiri.


Atas dasar itu, Bupati Tapanuli Selatan H. Gus Irawan Pasaribu mengajak seluruh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam untuk mengambil peran lebih aktif dalam mempercepat proses pemulihan pascabencana. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Silaturahmi dan Koordinasi Membangun Sinergi Antarormas Islam dengan tema “Tapsel Pulih Lebih Cepat dan Bangkit Lebih Kuat”, di Kantor MUI Tapanuli Selatan, Kompleks Perkantoran Bupati Tapanuli Selatan, Sipirok, Jumat (2/10/2026).


Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Bagian Kesra Setdakab Tapsel Hotma Rido Ranto Siregar, Ketua BWI, Ketua NU, Ketua Muhammadiyah, Ketua Al Jam’iyatul Washliyah, Ketua Baznas, Ketua BKMT, Ketua PD Aisyiyah, Ketua DMI, Ketua FKUB, Ketua BKPRMI, Ketua Muslimat NU, Ketua IPQOH, Ketua IPHI, Ketua FKDT, Ketua BSPPTS, serta sejumlah pengurus ormas Islam lainnya.


Bupati menjelaskan, bencana yang melanda Tapsel pada 25 November 2025 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga memberikan tekanan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Lebih dari 3.000 hektare lahan pertanian terdampak dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Bahkan, sebagian masyarakat harus direlokasi karena tempat tinggal sebelumnya dinilai tidak lagi aman.


“Persoalan berikutnya yang masih harus kita temukan solusinya adalah bagaimana menyambung hidup para korban, sehingga mereka kembali memiliki mata pencaharian. Di sinilah saya kira kami membutuhkan bantuan dan kerja sama dari seluruh komponen masyarakat, termasuk ormas Islam,” ujar Gus Irawan.


Menurut Bupati, pembangunan hunian tetap (huntap) memang menjadi salah satu langkah penting dalam pemulihan. Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat dan berbagai pihak terus mempercepat pembangunan huntap di sejumlah lokasi, di antaranya Hapesong, Simatohir dan Tandihat. Namun, pemulihan tidak boleh berhenti ketika masyarakat telah mendapatkan tempat tinggal baru.


“Belum tuntas, tetapi semuanya sedang berproses menuju tuntas. Persoalan berikutnya adalah bagaimana masyarakat korban bencana ini kembali memiliki mata pencaharian,” katanya.


Dalam konteks tersebut, Bupati menilai ormas Islam mempunyai posisi strategis karena memiliki jaringan sosial yang kuat hingga ke tingkat desa dan komunitas. Para ulama, dai, mubalig, pengurus masjid, kelompok pengajian hingga organisasi perempuan Islam dinilai memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat sehingga dapat menjadi penghubung antara program pemerintah dan kebutuhan warga.


Ia berharap forum pengajian, dakwah dan kegiatan organisasi tidak hanya menjadi ruang penguatan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan informasi mengenai berbagai program pemberdayaan masyarakat.


“Bagaimana ini sampai kepada masyarakat, bagaimana mengubah mindset masyarakat, lalu kemudian program-program ini bisa berjalan lebih masif. Saya kira organisasi Islam bisa mengambil peran di situ,” tegasnya.


Selain aspek ekonomi, Gus Irawan juga menekankan pentingnya pemulihan mental dan spiritual masyarakat terdampak bencana. Para dai dan tokoh agama diharapkan memberikan perhatian khusus melalui pengajian dan kegiatan keagamaan yang dapat menjadi ruang untuk memperkuat ketahanan psikososial, membangun optimisme, serta menumbuhkan kembali semangat masyarakat untuk bangkit.


Dalam pertemuan tersebut, Bupati juga mengajak ormas Islam bersama pemerintah daerah menghadapi tiga persoalan besar yang dinilainya menjadi tantangan pembangunan Tapsel, yakni pemberantasan narkoba dan judi online, pengurangan ketergantungan masyarakat terhadap praktik rentenir, serta penanggulangan kemiskinan.


Menurutnya, perang terhadap narkoba tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum. Keluarga dan lingkungan masyarakat harus menjadi benteng pertama dalam mencegah penyalahgunaan narkoba.


“Kalau setiap keluarga di Tapsel terbebas dari narkoba, maka Tapsel akan terbebas dari narkoba. Di sinilah sentuhan keagamaan dan peran organisasi masyarakat sangat penting,” ujarnya.


Persoalan lain yang mendapat perhatian adalah praktik pinjaman dengan bunga tinggi yang dapat memperberat beban ekonomi masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Tapsel bersama Bank Sumut mendorong tersedianya alternatif pembiayaan produktif dengan beban bunga yang lebih ringan.


Program tersebut diarahkan terutama kepada masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan modal untuk mengembangkan kegiatan ekonomi. Organisasi perempuan seperti BKMT, Aisyiyah dan Muslimat NU diharapkan ikut menyosialisasikan informasi tersebut karena memiliki jaringan yang dekat dengan keluarga dan masyarakat.


“Ibu-ibu berada di lingkungan masing-masing. Kalau ada keluarga atau tetangga yang terjerat pinjaman berbunga tinggi, tolong informasi ini disampaikan. Kita ingin mengangkat mereka dari kondisi itu dan memindahkannya ke pembiayaan yang lebih ringan,” kata Gus Irawan.


Dampak bencana terhadap perekonomian daerah juga menjadi perhatian serius pemerintah. Ribuan hektare lahan pertanian yang terdampak menyebabkan aktivitas produksi masyarakat mengalami gangguan. Pertumbuhan ekonomi Tapsel yang sebelumnya berada di atas 5 persen turun menjadi 2,49 persen pada triwulan IV 2025.


Meski demikian, berbagai intervensi pemerintah secara bertahap mulai menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi kembali meningkat menjadi 3,49 persen pada triwulan I 2026 dan mencapai 4,57 persen pada triwulan II 2026. Kendati demikian, angka tersebut masih perlu terus didorong agar perekonomian daerah kembali mendekati kondisi sebelum bencana.


Untuk mempercepat pemulihan, Pemkab Tapsel mendorong pengembangan berbagai sektor ekonomi produktif, seperti jagung, kopi, peternakan dan perikanan. Pemerintah juga membuka akses pembiayaan produktif melalui Bank Sumut serta dukungan Baznas bagi masyarakat yang membutuhkan.


Bupati menegaskan, orientasi pemulihan ekonomi harus diarahkan dari pola bantuan konsumtif menuju pemberdayaan yang mampu menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.


“Bantuan pemerintah tidak boleh berhenti pada bantuan konsumtif. Kita harus mendorong masyarakat agar memiliki usaha, memiliki penghasilan dan mampu berdiri sendiri,” ungkapnya.


Gus Irawan juga menyampaikan apresiasi kepada Baznas Tapsel yang selama ini membantu masyarakat, terutama mereka yang belum mampu mengakses pembiayaan perbankan. Ia berharap Baznas dan lembaga sosial-keagamaan lainnya terus melakukan inovasi dalam membantu masyarakat dengan tetap mengedepankan prinsip amanah, transparansi dan ketepatan sasaran.


Sementara itu, Ketua MUI Tapanuli Selatan Ali Sati Rangkuti mengatakan bahwa pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi antara MUI dan seluruh ormas Islam di Tapanuli Selatan. Sedikitnya 15 ormas Islam diundang untuk menyatukan langkah dalam membantu pemerintah dan masyarakat menghadapi berbagai persoalan.


“Kita ingin ke depan ada program kerja yang bisa kita sinergikan dan kolaborasikan. Kita bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk Tapanuli Selatan agar lebih cepat pulih dan bangkit lebih kuat,” ujar Ali Sati.


Ia berharap arahan Bupati dapat menjadi pijakan bagi seluruh ormas Islam untuk merumuskan program yang lebih konkret dan menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Menurutnya, kekuatan organisasi Islam tidak hanya terletak pada jumlah anggota, tetapi juga pada kedekatan sosial, jaringan komunitas dan kepercayaan masyarakat.


Pertemuan tersebut pada akhirnya tidak sekadar menjadi forum silaturahmi, tetapi berkembang menjadi ruang konsolidasi sosial-keagamaan untuk memperkuat kolaborasi dalam pemulihan pascabencana. Pemerintah dan ormas Islam diharapkan mampu membangun gerakan bersama yang mencakup pemulihan ekonomi, penguatan ketahanan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta pencegahan narkoba, judi online dan praktik rentenir.


Dengan kekuatan jaringan sosial-keagamaan yang tersebar hingga tingkat komunitas, ormas Islam diharapkan menjadi salah satu motor penggerak pemulihan Tapanuli Selatan. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan cita-cita bersama: Tapsel Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat, dan masyarakat kembali mandiri secara ekonomi serta kokoh secara sosial dan spiritual.(PS/BERMAWI)

Komentar Anda

Terkini: