Darurat Narkoba di Langkat: Jaringan Terendus, Desakan Penindakan Tegas Mengarah ke Pucuk Pimpinan

/ Kamis, 01 Oktober 2026 / 23.24.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM - LANGKAT, Peredaran gelap narkotika di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, berada dalam titik yang sangat mengkhawatirkan. Di tengah keresahan publik yang kian memuncak—khususnya para kaum ibu—jejaring peredaran barang haram ini diduga melibatkan oknum-oknum berinisial EB dan RG yang disebut sebagai pengendali di tingkat kabupaten, serta sejumlah nama pengedar di tingkat kecamatan.

Ironisnya, hingga saat ini, belum terlihat adanya penindakan hukum yang menyentuh akar kepemimpinan jaringan tersebut, meski investigasi lapangan dan laporan warga telah terpampang nyata.

#Keresahan Ibu Rumah Tangga di Wampu

Kecamatan Wampu menjadi salah satu wilayah yang paling disorot akibat maraknya transaksi narkoba yang diduga berjalan tanpa hambatan berarti. Sejumlah nama yang disebut-sebut sebagai motor penggerak di lapangan—antara lain Budi Black, Wawong, Ibob, Lutfi, Ditra, Iyan, dan Dedi—masih leluasa menjalankan aktivitas terlarang tersebut.

SN (nama disamarkan), seorang warga sekaligus ibu rumah tangga di Kecamatan Wampu, menyampaikan jerit hatinya. Dengan nada cemas, ia mewakili suara para orang tua yang hidup dalam ketakutan setiap hari.

"Kami sangat resah dan takut anak-anak kami menjadi korban dari perusakan masa depan ini. Aktivitas mereka terang-terangan, tapi kenapa terkesan dibiarkan?" ungkap SN dengan nada getir.

Warga juga mengingatkan akan vidio viral mantan Polisi Bripka Abdul Tamba sebelumnya bertugas sebagai personel di Satuan Sabhara Polres Langkat sebelum akhirnya dipecat (PTDH) akibat pelanggaran disiplin dan kode etik

Videonya yang sempat viral di media sosial mengingatkan kita akan tuduhan oknum polisi Polres Langkat menerima setoran dari bandar narkoba kian jadi pertanyaan mendalam, hal itu di karenakan para Bandar - bandar seperti EB dan RG yang disebut sebut sebagai pengendali di tingkat kabupaten dan nama nama pengedar di tingkat kecamatan seperti Budi Black, Wawong, Ibob, Lutfi, Ditra, Iyan, dan Dedi—masih leluasa menjalankan aktivitas terlarang tersebut.

Lebih mencengangkan lagi, dalam menjalankan fungsi kontrol sosialnya, awak media yang berupaya mengungkap jejaring kejahatan ini justru menghadapi teror psikologis. Seseorang berinisial AZ, yang mengaku sebagai salah satu anggota Forpeda Kabupaten Langkat, sempat menghubungi jurnalis dengan gelagat yang diduga kuat berupaya membungkam pemberitaan investigasi tersebut.

#Respons Penegak Hukum

Menanggapi sorotan publik yang kian masif, Kapolres Langkat AKBP Hannry P.H. Tambunan, S.E., S.I.K., saat dikonfirmasi awak media, menegaskan komitmen pihak kepolisian dalam memberantas narkotika di wilayah hukumnya.

"Tiap hari kita ungkap terus. Kemarin kita tangkap tiga lokasi dengan beberapa tersangka,"tegas AKBP Hannry singkat.

Kendati demikian, pernyataan tersebut dinilai belum sejalan dengan ekspektasi masyarakat di lapangan. Publik Langkat mempertanyakan mengapa pihak-pihak kunci yang diduga bertindak sebagai pengendali utama, seperti EB dan RG, belum juga tersentuh pemeriksaan hukum secara transparan dan terbuka.

#Harapan Besar kepada Kapolres Langkat

Masyarakat Kabupaten Langkat kini menaruh harapan penuh di pundak Kapolres Langkat yang baru dan jajarannya untuk membersihkan wilayah mereka dari cengkeraman sindikat narkoba. Para ibu rumah tangga mendesak agar kepolisian tidak hanya berhenti pada penangkapan pemain lapangan, melainkan berani membongkar tuntas hingga ke meja para aktor intelektual dan pengendali jaringan.

Ketajaman pena jurnalis dan keberanian warga adalah alarm darurat. Kini, bola panas berada di tangan aparat penegak hukum untuk membuktikan bahwa hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas.(PS/RED)

Komentar Anda

Terkini: