![]() |
Muhammad Shahab Al Madhani
Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala |
POSKOTASUMATRA.COM|BANDA ACEH—Pertanian sering kali dianggap sebagai persoalan lokal yang hanya berkaitan dengan petani, lahan, hasil panen, dan harga jual. Namun, perkembangan perdagangan global menunjukkan bahwa pertanian juga memiliki hubungan yang erat dengan politik internasional. Ketika hasil pertanian suatu daerah menjadi komoditas ekspor, kondisi pasar luar negeri, hubungan perdagangan, dan permintaan dari negara lain dapat memengaruhi kehidupan petani di daerah tersebut.
Salah satu contoh yang menarik dapat dilihat dari nilam Aceh. Tanaman yang banyak dibudidayakan di sejumlah wilayah Aceh ini menghasilkan minyak nilam atau patchouli oil, bahan yang digunakan dalam industri parfum dan kosmetik. Komoditas tersebut bahkan telah menembus pasar internasional, terutama Eropa.
Karena itu, nilam Aceh dapat dilihat bukan hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai bagian dari geopolitik ekonomi. Kondisi geografis Aceh menghasilkan komoditas yang memiliki nilai di pasar dunia, sementara perkembangan pasar internasional kemudian dapat memengaruhi kehidupan petani di tingkat lokal.
Dari Tanah Aceh ke Pasar Internasional
Nilam merupakan salah satu tanaman yang memiliki sejarah panjang dalam perekonomian pertanian Aceh. Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh menyebut minyak nilam Aceh memiliki kualitas yang cukup baik dan diminati pasar dunia. Penggunaannya juga tidak hanya terbatas pada industri kecantikan, tetapi berkembang ke berbagai industri lainnya.
Hubungan antara nilam Aceh dan pasar internasional bukan sekadar potensi. Pada Desember 2022, Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala melakukan ekspor 3 ton minyak nilam dan pala Aceh ke Prancis. Dari jumlah tersebut, minyak nilam mencapai 2,2 ton, sedangkan minyak pala 800 kilogram. Produk tersebut berasal dari pembelian hasil produksi sekitar 300 petani dari berbagai wilayah Aceh melalui koperasi mereka.
Pada kesempatan tersebut, ARC USK juga menyebut adanya permintaan dari Prancis sebesar 10 ton minyak nilam per bulan, sementara kapasitas yang tersedia saat itu belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut.
Fakta ini menunjukkan bahwa hubungan antara petani nilam Aceh dengan dunia internasional sudah terbentuk melalui perdagangan.
Ketika Pasar Dunia Menentukan Harga Petani
Masuknya nilam Aceh ke pasar internasional membawa peluang sekaligus tantangan.
Di satu sisi, permintaan luar negeri dapat meningkatkan harga dan memberikan peluang pendapatan bagi petani. Di sisi lain, ketergantungan pada pasar internasional membuat harga dan produksi lokal dapat ikut terpengaruh oleh perubahan permintaan global.
Contohnya terjadi di Aceh Barat. Pada November 2023, harga minyak nilam di tingkat pengepul mencapai Rp750.000 per kilogram, meningkat dari sebelumnya sekitar Rp520.000 per kilogram. Menurut keterangan pengepul yang dikutip ANTARA, peningkatan tersebut berkaitan dengan meningkatnya permintaan dari pasar luar negeri. Minyak nilam Aceh Barat pada saat itu diekspor ke Malaysia, Singapura, Tiongkok, dan sejumlah negara Eropa.
Sebaliknya, pada Juni 2022, harga minyak nilam di tingkat pengepul Aceh Barat berada di sekitar Rp510.000 per kilogram. Sebelumnya harga berada di sekitar Rp500.000. Pada periode tersebut, penurunan permintaan pasar dalam dan luar negeri disebut sebagai salah satu faktor yang memengaruhi harga. Bahkan, perang Rusia-Ukraina disebut oleh pengepul sebagai salah satu faktor yang diduga ikut memengaruhi lesunya permintaan.
Dua kondisi tersebut memperlihatkan hubungan yang menarik: peristiwa dan dinamika di luar Aceh dapat berpengaruh terhadap harga komoditas yang dihasilkan petani Aceh.
Inilah salah satu titik masuk untuk melihat pertanian melalui perspektif geopolitik.
Di Mana Letak Geopolitiknya?
Geopolitik tidak selalu berbicara mengenai perang atau perebutan wilayah.
Dalam kasus nilam Aceh, geopolitik dapat dilihat dari hubungan antara geografi, sumber daya pertanian, perdagangan, pasar internasional, dan kepentingan ekonomi.
Aceh memiliki kondisi geografis yang memungkinkan tanaman nilam berkembang. Dari sumber daya tersebut, masyarakat menghasilkan minyak nilam. Produk kemudian masuk ke jaringan perdagangan dan dibeli oleh pihak luar negeri untuk digunakan dalam industri parfum dan kosmetik.
Artinya, sebuah komoditas yang berasal dari desa di Aceh dapat memiliki hubungan dengan industri di negara lain.
Ketika permintaan dari luar negeri meningkat, harga di Aceh dapat ikut meningkat. Sebaliknya, ketika permintaan melemah, petani dan penyuling dapat mengalami tekanan harga.
Dengan demikian, pasar internasional dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat di wilayah produksi.
Hubungan inilah yang membuat nilam dapat dibaca melalui perspektif geopolitik ekonomi.
Aceh Barat sebagai Contoh Nyata
Aceh Barat merupakan salah satu daerah yang menunjukkan bagaimana komoditas nilam berkembang sebagai bagian dari perekonomian lokal.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Aceh Barat yang diberitakan ANTARA pada Maret 2025, luas tanaman nilam di daerah tersebut mencapai 279 hektare. Dari jumlah tersebut, 117 hektare sudah menghasilkan, sedangkan sekitar 162 hektare belum menghasilkan. Produksi minyak nilam tercatat mencapai 22,82 ton per tahun, dengan produktivitas sekitar 195 kilogram per hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa nilam bukan sekadar tanaman tambahan bagi masyarakat. Komoditas ini sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat Aceh Barat.
Pemerintah daerah juga menyatakan bahwa sebagian besar minyak nilam tersebut dijual ke luar daerah dan diekspor ke luar negeri untuk digunakan sebagai bahan baku parfum dan kosmetik.
Dengan demikian, terdapat hubungan yang jelas antara pertanian lokal dan perdagangan global.
Masalah Posisi Tawar Petani
Namun, terdapat persoalan penting yang perlu diperhatikan.
Ketika suatu komoditas memiliki pasar internasional, pertanyaan berikutnya adalah: seberapa besar keuntungan dari perdagangan tersebut kembali kepada petani?
Dalam rantai perdagangan nilam terdapat petani, penyuling, pengepul, koperasi, perusahaan pengolah, eksportir, dan pembeli internasional. Setiap aktor mempunyai posisi yang berbeda.
Salah satu persoalan yang pernah muncul adalah nilai tambah produk yang belum sepenuhnya dinikmati oleh petani di Aceh.
ANTARA pada 2016 melaporkan bahwa sebelum adanya penguatan sertifikasi dan pengelolaan produk nilam Aceh, minyak yang diproduksi petani Aceh pernah diolah kembali oleh penampung di Medan. Kondisi tersebut menyebabkan nilai tambah dari proses pengolahan lebih lanjut dinikmati oleh pelaku usaha di luar Aceh.
Persoalan ini penting jika dilihat dari perspektif geopolitik ekonomi.
Sumber daya berasal dari Aceh, tetapi penguasaan terhadap pengolahan, perdagangan, dan pasar menentukan siapa yang memperoleh nilai ekonomi lebih besar.
Karena itu, kekuatan suatu daerah tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak komoditas yang dapat diproduksi. Kemampuan menguasai proses pengolahan dan akses pasar juga menentukan posisi tawarnya.
Hilirisasi sebagai Strategi
Salah satu cara meningkatkan posisi tawar adalah melalui hilirisasi.
Jika petani hanya menjual bahan mentah, maka nilai tambah terbesar bisa muncul pada tahap berikutnya. Sebaliknya, jika minyak nilam dapat diolah menjadi bahan baku berkualitas tinggi atau produk turunan seperti parfum, kosmetik, dan produk aromaterapi, maka nilai ekonominya dapat meningkat.
Hal tersebut telah mulai dilakukan di Aceh.
Pada 2021, ARC USK membeli 100 kilogram minyak nilam dari petani Aceh Selatan dengan harga Rp610.000 per kilogram. Minyak tersebut kemudian direncanakan untuk diproses lebih lanjut menjadi bahan fiksatif parfum dan dimurnikan untuk meningkatkan kadar patchouli alcohol hingga lebih dari 60 persen.
Langkah seperti ini menunjukkan bahwa pengembangan nilam tidak harus berhenti pada produksi minyak.
Semakin tinggi kemampuan daerah melakukan pengolahan, semakin besar peluang nilai tambah bertahan di daerah asal.
Hubungan Aceh dengan Negara Lain
Perdagangan nilam juga menunjukkan bahwa hubungan internasional tidak hanya dilakukan oleh pemerintah.
Pada 2022, ARC USK bekerja sama dengan Koperasi Inovasi Nilam Aceh dan mitra usaha untuk mengekspor minyak nilam ke Prancis. Pemerintah Aceh mencatat bahwa saat itu terdapat upaya memenuhi permintaan sekitar 30 ton nilam per tahun dari Prancis, sekaligus melakukan pembinaan petani di berbagai kabupaten.
Dalam konteks ini, perdagangan komoditas menjadi salah satu bentuk hubungan antara Aceh dan pasar internasional.
Aceh tidak harus memiliki kekuatan militer atau menjadi negara sendiri untuk memiliki hubungan ekonomi dengan negara lain. Produk yang dihasilkan petani juga dapat menjadi bagian dari hubungan ekonomi lintas negara.
Karena itu, pertanian dapat menjadi salah satu instrumen kekuatan ekonomi daerah.
Dari Petani ke Geopolitik
Nilam Aceh memberikan gambaran sederhana mengenai bagaimana geopolitik bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Dimulai dari tanah dan kondisi geografis Aceh, petani menghasilkan tanaman nilam. Tanaman tersebut disuling menjadi minyak. Minyak kemudian diperdagangkan melalui koperasi, pengepul atau perusahaan dan sebagian masuk ke pasar internasional.
Ketika pasar internasional mengalami perubahan, harga dan permintaan dapat ikut berubah. Dampaknya kemudian dirasakan kembali oleh petani di daerah.
Rantai tersebut dapat digambarkan sebagai:
Geografi Aceh → pertanian nilam → produksi minyak → perdagangan → pasar internasional → perubahan permintaan/harga → pendapatan petani.
Inilah alasan mengapa pertanian dapat dikaji melalui perspektif geopolitik.
Menjadikan Nilam sebagai Kekuatan Aceh
Aceh memiliki peluang untuk menjadikan nilam sebagai salah satu komoditas pertanian strategis. Namun, peluang tersebut membutuhkan pengelolaan yang konsisten.
Peningkatan kualitas tanaman, teknologi penyulingan, kepastian pasar, akses pembiayaan, penguatan koperasi, perlindungan kualitas produk, dan hilirisasi perlu berjalan bersama.
Pemerintah Aceh sendiri pernah menargetkan pengembangan nilam dengan pendekatan good agricultural practices di tingkat hulu dan penguatan industri hilir.
Jika strategi tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan, nilam tidak hanya menjadi komoditas yang dijual dari Aceh, tetapi dapat menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan posisi tawar lebih kuat.
Pada akhirnya, kekuatan geopolitik ekonomi tidak selalu dimulai dari sumber daya yang besar seperti minyak bumi atau mineral.
Tanaman nilam yang tumbuh di lahan petani Aceh juga dapat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi ketika mampu terhubung dengan pasar dunia.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana Aceh memastikan bahwa hubungan dengan pasar internasional tidak hanya menguntungkan pihak yang berada di hilir, tetapi juga memberikan manfaat yang layak kepada petani sebagai produsen utama.
Nilam Aceh menunjukkan bahwa geopolitik dapat hadir sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari sebuah kebun di Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Jaya, hingga wilayah lainnya, hasil pertanian dapat bergerak menuju pasar luar negeri dan menjadi bahan baku industri global.
Karena itu, membangun kekuatan pertanian Aceh bukan hanya tentang meningkatkan produksi. Ini juga tentang memperkuat posisi tawar petani, menguasai nilai tambah, dan memastikan bahwa kekayaan yang berasal dari tanah Aceh dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Aceh.(PS|IMAM)
